Wartaglobal.id || NTT, Nagekeo - Kesabaran warga yang mengantre BBM bersubsidi jenis Pertalite di SPBU Danga, Kabupaten Nagekeo, akhirnya pecah pada Minggu malam (7/6/2026). Gangguan sistem yang terjadi di tengah tingginya aktivitas pengisian BBM membuat puluhan kendaraan roda dua dan roda empat terjebak dalam antrean panjang tanpa kepastian kapan pelayanan dapat kembali berjalan normal.
Sejak malam hari, antrean kendaraan terlihat mengular di area SPBU. Sebagian besar pengendara yang datang berharap bisa memperoleh Pertalite untuk melanjutkan aktivitas dan perjalanan mereka. Namun harapan itu berubah menjadi kekecewaan ketika proses pengisian mendadak terhenti akibat sistem barcode yang tidak dapat diakses.
Situasi di lokasi pun sempat memanas. Sejumlah warga yang telah menunggu cukup lama mengaku kecewa karena tidak mendapatkan informasi yang jelas mengenai gangguan yang sedang terjadi. Beberapa pengendara bahkan melayangkan protes kepada petugas SPBU karena merasa dibiarkan mengantre berjam-jam tanpa kepastian.
Salah satu pengguna kendaraan, Afon Fao, mengaku tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya setelah menunggu lama dalam antrean namun akhirnya gagal mendapatkan Pertalite.
"Kami sudah antre berjam-jam, tetapi tidak ada pemberitahuan kepada masyarakat kalau sistem sedang bermasalah. Seharusnya petugas menyampaikan sejak awal agar kami tidak mengantre tanpa kepastian. Kami ini datang untuk mengisi BBM, bukan untuk berdiri berjam-jam dalam antrean yang akhirnya tidak ada kepastian," ujar Afon dengan nada kecewa.
Menurutnya, masyarakat tidak akan mempermasalahkan apabila gangguan tersebut segera diinformasikan kepada para pengguna kendaraan. Namun yang membuat warga kesal adalah minimnya komunikasi dari pihak yang bertugas di lapangan.
"Kalau memang jaringan atau sistem sedang error, sampaikan kepada kami. Jangan biarkan masyarakat terus antre dan berharap dilayani padahal sistem belum bisa digunakan. Waktu masyarakat juga berharga," tegasnya.
Berdasarkan informasi yang diperoleh di lokasi, gangguan terjadi pada sistem yang digunakan untuk memproses barcode pembelian Pertalite bersubsidi. Akibatnya, transaksi untuk BBM jenis tersebut tidak dapat dilakukan meskipun stok BBM tersedia.
Salah seorang petugas SPBU yang enggan disebutkan namanya menjelaskan bahwa pelayanan Pertalite terganggu karena sistem tidak dapat terhubung dengan jaringan yang dibutuhkan untuk memverifikasi barcode pengguna.
"Untuk Pertalite harus menggunakan barcode yang terkoneksi dengan sistem. Saat terjadi gangguan, barcode tidak bisa diproses sehingga pengisian tidak dapat dilakukan. Sedangkan untuk Pertamax dan Dexlite masih bisa dilayani," jelasnya.
Kondisi itu membuat sebagian pengguna kendaraan terpaksa mengubah pilihan dan membeli BBM non-subsidi agar tetap bisa melanjutkan perjalanan.
Namun bagi sebagian warga, solusi tersebut dinilai tidak ideal karena harus mengeluarkan biaya lebih besar dibandingkan jika membeli Pertalite.
Menanggapi kejadian tersebut, Manager SPBU Danga, Lorens, membenarkan adanya gangguan sistem yang berdampak pada pelayanan Pertalite pada Minggu malam.
"Kami menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas ketidaknyamanan yang terjadi. Gangguan ini bukan sesuatu yang kami harapkan. Sejak awal terjadi kendala, petugas langsung berupaya melakukan penanganan dan berkoordinasi dengan pihak terkait agar pelayanan bisa kembali normal secepat mungkin," kata Lorens saat dikonfirmasi.
"Kami memahami kekecewaan masyarakat. Karena itu, begitu gangguan terdeteksi, petugas langsung melakukan langkah-langkah penanganan agar pelayanan dapat segera dipulihkan," tambahnya.
Lorens juga meminta masyarakat untuk tetap bersabar apabila terjadi kendala teknis serupa di kemudian hari. Ia memastikan pihak SPBU akan terus berupaya memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.
Setelah dilakukan penanganan, sistem secara bertahap kembali normal dan pelayanan pengisian Pertalite dapat dilanjutkan. Meski demikian, peristiwa tersebut meninggalkan catat.
: Gebby RataReporter
KALI DIBACA


.jpg)

No comments:
Post a Comment