WARTAGLOBAL.ID || NTT, Nagekeo – Hukum rimba diduga kuat tengah dipraktekkan oleh Ferdin Dosa, mantan Calon Legislatif (Caleg) dari Partai Gerindra di Kabupaten Nagekeo. Tanpa nurani, oknum politisi ini dilaporkan melakukan aksi penganiayaan brutal terhadap Kepala Desa Labolewa, Valens Nusa, dan seorang warga kecil, Tobias Dega, pada Sabtu (14/3/2026).
Aksi "koboi" ini mencoreng wajah demokrasi di Nagekeo. Mantan calon wakil rakyat yang seharusnya mengayomi, justru diduga bertindak layaknya algojo di pematang sawah.
Kejadian ini bukan sekadar pertengkaran biasa, melainkan dugaan penyiksaan terencana. Tobias Dega dijemput paksa dari rumahnya di Nebe, digiring ke lokasi sepi, lalu dihajar habis-habisan.
“Saya dipukul sampai jatuh, diinjak-injak di sawah. Parang saya dirampas dan dipakai untuk memukul paha serta pinggang saya dua kali. Dia (Ferdin) mengancam akan memotong telinga saya kalau saya dianggap bandel,” ungkap Tobias dengan trauma mendalam.
Ini adalah penghinaan terhadap kemanusiaan. Seorang warga sipil diperlakukan tanpa martabat oleh sosok yang pernah meminta suara rakyat.
Keberingasan Ferdin Dosa mencapai puncaknya saat ia berani menyentuh fisik Kepala Desa Labolewa, Valens Nusa. Hanya karena urusan ternak yang bahkan belum merusak sawahnya, sang Kades justru dicekik di bagian leher dan didorong paksa ke sawah sembari dihujani makian kotor.
Tindakan ini adalah serangan terhadap institusi negara. Jika seorang Kepala Desa saja bisa dicekik dan dipermalukan, lantas bagaimana nasib rakyat kecil lainnya di tangan oknum seperti ini?
Minggu (15/3/2026), laporan resmi telah masuk ke Polres Nagekeo. Barang bukti sebilah parang telah disita. Publik kini menyoroti kinerja kepolisian: Apakah hukum akan tunduk pada pengaruh politik pelaku, ataukah keadilan akan ditegakkan setegak-tegaknya?
“Kami minta aparat segera menahan pelaku! Jangan biarkan dia melenggang bebas seolah kebal hukum. Ini negara hukum, bukan tanah milik pribadi Ferdin Dosa!” tegas pihak keluarga korban dengan geram.
Kasus ini juga menjadi tamparan keras bagi Partai Gerindra. Masyarakat kini mempertanyakan kualitas kader yang pernah diusung. Tokoh adat setempat, Kepala Suku Nataia, Patria Seo, mendesak transparansi penuh dalam proses hukum ini.
Salah satu penyidik Polres Nagekeo menyatakan akan segera memanggil terlapor. "Jika memenuhi unsur pidana, tentu akan dilakukan penahanan," ujarnya singkat.
Redaksi Mencatat: Kekerasan tetaplah kekerasan, tak peduli apa latar belakang pelakunya. Jika Polres Nagekeo gagal bertindak tegas, maka wibawa hukum di kabupaten ini akan runtuh seketika. Rakyat Nagekeo tidak butuh politisi bergaya preman!
Reporter: Gebby Rata
KALI DIBACA



.jpg)
Terbaik
ReplyDeleteIzin bertanya, apakah berita ini sebelum di naikan sudah konfirmasih kebenaranya kepada pihak Ferdinandus Dosa juga? Agar kesanya beritanya tidak berat sebelah.
ReplyDeleteBetul om
Delete