WARTAGLOBAL.ID || NTT, TTS - Bagi remaja di pelosok negeri, Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) bukan sekadar kegiatan ekstrakurikuler. Ia adalah simbol harga diri, bukti kedisiplinan, dan tiket kehormatan untuk berdiri tegak di bawah kibaran Sang Saka Merah Putih. Namun, bagi Gresyani Imelda Tenistuan, seorang siswi SMA Kristen 1 Soe, impian yang telah ia rajut dengan tetesan keringat selama berbulan-bulan kini berubah menjadi sebuah tanya yang menyesakkan dada.
Gresyani bukanlah remaja yang berangkat dari kemewahan. Ia adalah anak dari seorang ibu rumah tangga biasa di sebuah desa. Baginya, pendidikan dan kesempatan adalah barang mahal yang harus diperjuangkan dengan kejujuran dan kerja keras. Sejak jauh hari, ia telah memupuk mimpi untuk menjadi bagian dari Paskibraka Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) tahun 2026.
Bukan sekadar keinginan sesaat, persiapan Gresyani adalah bukti keteguhan. Saat teman-temannya mungkin menghabiskan waktu luang dengan bersantai, Gresyani memilih untuk berlatih. Ia menguji fisiknya, menempa mentalnya, dan mematangkan gerak langkahnya di sekolah.
"Saya memang bukan anak pejabat, bukan anak orang kaya. Saya hanya anak yang dibesarkan oleh seorang ibu dari desa. Tapi saya punya semangat," tutur Gresyani dalam catatan pilunya, mencerminkan kejujuran seorang anak yang hanya ingin membuktikan bahwa kerja keras memiliki nilai.
Perjalanan seleksi bukanlah rintangan yang mudah. Namun, Gresyani berhasil membuktikan kapasitasnya. Ia melangkah dengan kepala tegak saat namanya berkali-kali muncul dalam daftar siswa yang lulus tahapan seleksi. Seleksi administrasi berhasil ditembus, tahapan demi tahapan ia lalui dengan nilai yang meyakinkan.
Setiap pengumuman kelulusan adalah validasi baginya bahwa sistem berlaku adil, bahwa seorang anak dari keluarga sederhana pun memiliki kesempatan yang sama jika ia mampu memenuhi kriteria. Keyakinan Gresyani mencapai puncaknya; ia merasa satu langkah lagi akan tiba di mimbar kehormatan.
Namun, di titik itulah realita menghantamnya dengan keras.
Tanpa adanya pemberitahuan mengenai kekurangan teknis atau pelanggaran aturan, sebuah perintah memanggilnya untuk menghadap Kepala Badan (Kaban) Kesbangpol. Dalam pertemuan yang singkat dan tak terduga itu, Gresyani diminta untuk pulang. Tidak ada penjelasan mendetail, tidak ada ruang diskusi, tidak ada alasan yang cukup untuk mencerna mengapa pintu yang terbuka lebar itu tiba-tiba ditutup rapat.
"Hari di mana semua harapan itu seketika hilang hanya dengan perintah bertemu Kaban... saya diminta untuk pulang tanpa sebab tanpa akibat. Hal itu membuat saya sangat kehilangan rasa percaya diri, kecewa, dan menangis berhari-hari," kenang Gresyani dengan hati yang masih tertatih.
Tak ingin membiarkan impiannya menguap begitu saja tanpa kepastian, Gresyani, didampingi sang ibu, menempuh jalur formal. Mereka mendatangi kantor DPRD TTS, berharap menemukan titik terang atau solusi atas ketidakpastian yang menimpa dirinya. Namun, hingga detik ini, harapan itu masih menggantung. Langkah yang ditempuh seolah membentur dinding bisu yang tak memberikan jawaban memuaskan.
Kisah Gresyani kini menjadi cerminan dari pergulatan batin seorang remaja yang merasa haknya terenggut tanpa penjelasan. Ia tidak sedang menuntut hak untuk dipaksakan lulus, melainkan menuntut hak untuk mengetahui alasan di balik kegagalannya—sebuah transparansi yang seharusnya menjadi hak setiap peserta didik.
Dalam surat terbuka yang menyayat hati, Gresyani menitipkan pesan kepada Bupati dan Wakil Bupati TTS. Pesan ini bukan ditujukan sebagai bentuk perlawanan, melainkan sebagai sebuah refleksi agar birokrasi dan sistem seleksi di daerahnya dapat berbenah.
"Bapak Bupati dan Wakil yang baik, jika saya memang tidak berhak, biarkan cerita dan rasa ini saya pikul sendiri dan menjadi pelajaran berharga yang akan terus saya doakan," tulisnya.
Gresyani berharap, air matanya menjadi yang terakhir. Ia berharap tidak akan ada lagi anak-anak dari keluarga sederhana lainnya yang harus menelan pil pahit yang sama, merasa tidak layak atau tidak berdaya hanya karena mereka lahir dari orang tua yang tidak memiliki posisi.
"Mungkin saya tidak pantas dan tidak layak karena hanya seorang anak dari orang tua biasa yang tidak mampu," tambahnya dengan nada kepasrahan yang mendalam.
Kisah Gresyani adalah pengingat bagi kita semua bahwa di balik setiap seragam Paskibraka yang gagah, terdapat harapan-harapan tulus dari anak bangsa. Memastikan proses seleksi berjalan secara transparan dan akuntabel bukan hanya soal menjaga integritas sebuah lembaga, tetapi juga menjaga api semangat generasi muda agar tidak padam sebelum sempat menyala.
Saat berita ini diturunkan, Gresyani masih menyimpan harapannya dalam diam, menunggu apakah pintu keadilan akan terbuka, atau apakah ia harus memupus impiannya dan menjadikannya sebuah bab kelam dalam perjalanan masa mudanya di Soe.
Demikian laporan ini disusun sebagai bentuk aspirasi dan kepedulian terhadap masa depan generasi muda di Kabupaten Timor Tengah Selatan.
(Roy S)
KALI DIBACA


.jpg)

No comments:
Post a Comment