WARTAGLOBAL.ID || NTT, Soe - Desa bukan sekadar kumpulan rumah dan hamparan tanah tempat manusia tinggal. Desa adalah ruang kehidupan yang menyimpan sejarah, nilai, budaya, dan harapan tentang masa depan. Dari desa lah manusia belajar tentang arti persaudaraan, ketulusan, serta makna hidup bersama dalam kebersamaan yang sederhana namun penuh kekuatan.
Karena itu, membangun desa sejatinya bukan hanya tentang menghadirkan pembangunan fisik, tetapi tentang membangun kesadaran manusia agar tetap menjaga persatuan, kepedulian, dan semangat gotong royong sebagai fondasi kehidupan bersama.
Filosofi inilah yang terus digaungkan oleh Kepala Desa Oebobo, Yusuf Ibrahim Selan, dalam memimpin masyarakat menuju desa yang mandiri, kuat, dan penuh harapan.
Bagi Yusuf Ibrahim Selan, membangun desa adalah bentuk cinta tanah air yang paling nyata. Sebab bangsa yang besar lahir dari desa-desa yang kuat, sementara desa yang kuat lahir dari masyarakat yang masih menjaga kebersamaan dan rasa memiliki terhadap tanah kelahirannya sendiri.
Dalam berbagai kesempatan bersama masyarakat, Yusuf terus mengajak warga untuk tidak hanya menjadi penonton dalam pembangunan, tetapi ikut menjadi pelaku utama perubahan di desanya sendiri.
“Mari satukan tekad, bangun desa kita. Keringat yang menetes dalam gotong royong adalah bukti nyata cinta kita pada tanah kelahiran,” ujar Yusuf Ibrahim Selan di hadapan warga Desa Oebobo, Selasa (12/05/2026).
Kalimat itu bukan hanya sekadar ajakan, melainkan sebuah filosofi kehidupan bahwa cinta terhadap kampung halaman tidak cukup hanya disimpan dalam hati, tetapi harus diwujudkan melalui tindakan nyata demi kemajuan bersama.
Menurut Yusuf, desa tidak akan pernah maju apabila masyarakat hanya sibuk menunggu bantuan dan perubahan datang dari luar. Kemajuan hanya bisa lahir ketika masyarakat memiliki keberanian untuk bergerak, bekerja, dan membangun dengan kesadaran bersama.
“Desa yang kuat lahir dari tangan-tangan warganya yang saling membantu, bukan saling menunggu.”
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kekuatan desa bukan terletak pada besarnya anggaran semata, tetapi pada kuatnya solidaritas masyarakatnya. Sebab dalam kehidupan desa, manusia tidak hidup sendiri. Kehidupan satu warga selalu berkaitan dengan kehidupan warga lainnya.
Gotong royong pun dipandang sebagai warisan leluhur yang memiliki nilai sangat luhur. Di tengah perkembangan zaman yang perlahan melahirkan sikap individualisme, masyarakat Desa Oebobo diajak untuk tetap mempertahankan budaya saling membantu sebagai identitas dan kekuatan utama desa.
“Gotong royong adalah warisan leluhur yang tak ternilai. Dengan kebersamaan, desa tertinggal bisa menjadi desa yang unggul.”
Selain membangun solidaritas sosial, Yusuf Ibrahim Selan juga mendorong masyarakat untuk terus menggali dan mengembangkan potensi lokal yang dimiliki desa. Menurutnya, kesederhanaan hidup masyarakat desa bukanlah tanda keterbelakangan, melainkan sumber ketulusan, kerja keras, dan semangat hidup yang luar biasa.
Ia percaya bahwa desa memiliki kemampuan untuk berdiri di atas kaki sendiri apabila masyarakatnya memiliki kemauan untuk belajar, berinovasi, dan bekerja bersama demi masa depan yang lebih baik.
“Jangan menunggu kemajuan datang, tetapi kitalah yang harus menciptakan jalan menuju kemajuan itu sendiri.”
Semangat pembangunan yang terus dibangun di Desa Oebobo mendapat apresiasi luas dari masyarakat dan perangkat desa. Warga menilai kepemimpinan Yusuf Ibrahim Selan mampu menghadirkan semangat baru dalam kehidupan sosial masyarakat, terutama dalam memperkuat kembali budaya gotong royong dan kebersamaan.
Masyarakat juga melihat bahwa pembangunan yang dilakukan tidak hanya berorientasi pada fisik semata, tetapi lebih jauh menyentuh nilai persatuan dan kesadaran sosial warga.
Apresiasi serupa juga disampaikan oleh Kepala Urusan Pemerintahan Desa Oebobo, Folkes Banunaek, yang menilai bahwa semangat kebersamaan masyarakat menjadi modal penting dalam membangun desa yang mandiri dan maju.
Menurut Folkes Banunaek, keberhasilan pembangunan desa tidak dapat dipisahkan dari hubungan yang harmonis antara pemerintah desa dan masyarakat. Karena itu, ia berharap semangat gotong royong dan solidaritas sosial terus dijaga sebagai kekuatan utama Desa Oebobo dalam menghadapi berbagai tantangan ke depan.
Ia menegaskan bahwa desa yang maju bukanlah desa yang masyarakatnya berjalan sendiri-sendiri, tetapi desa yang masyarakatnya mampu bersatu dalam tujuan yang sama demi masa depan generasi berikutnya.
Kini, Desa Oebobo perlahan terus menata diri. Di balik kesederhanaannya, desa ini sedang membangun harapan besar tentang masa depan. Sebuah masa depan di mana masyarakat tetap hidup dalam nilai persaudaraan, menjaga budaya gotong royong, dan mampu menciptakan prestasi melalui kerja keras serta kebersamaan.
Sebab pada akhirnya, desa bukan hanya tempat tinggal, melainkan tempat manusia belajar tentang arti kehidupan. Dan gotong royong adalah bukti bahwa manusia akan selalu lebih kuat ketika berjalan bersama dibanding berjalan sendiri.
(Roy S)
KALI DIBACA


.jpg)

No comments:
Post a Comment