Wali Kota Kupang Resmikan Tugu Pilu Tuan, Tegaskan Perbatasan Bukan Pemisah, Melainkan Simbol Persaudaraan - Warta Global NTT

Mobile Menu

Pendaftaran

Klik

More News

logoblog

Wali Kota Kupang Resmikan Tugu Pilu Tuan, Tegaskan Perbatasan Bukan Pemisah, Melainkan Simbol Persaudaraan

Thursday, 7 May 2026
Christian Widodo (Walikota Kupang)

WARTAGLOBAL.ID || NTT, Kupang - Suasana penuh kebersamaan dan semangat persatuan mewarnai peresmian Tugu Pilu Tuan di wilayah Kelurahan Fatukoa, Selasa (5/5/2026). 
Tugu yang berdiri megah di titik perbatasan antara Kota Kupang dan Desa Oelomin, Kabupaten Kupang itu diresmikan langsung oleh Christian Widodo sebagai simbol persatuan, kebersamaan, dan semangat gotong royong masyarakat lintas wilayah.

Peresmian tugu tersebut bukan sekadar seremoni pembangunan fisik. Di balik berdirinya Tugu Pilu Tuan, tersimpan pesan kuat tentang persaudaraan masyarakat di wilayah perbatasan yang selama ini hidup berdampingan dalam harmoni.

Kegiatan itu turut dihadiri Anggota DPRD Kota Kupang Johny Luther Sau, para pimpinan perangkat daerah lingkup Pemerintah Kota Kupang, Camat Maulafa, Plt. Lurah Fatukoa, Wakil Ketua LPM Kelurahan Fatukoa, tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, serta ratusan warga yang memadati lokasi kegiatan.

Dalam sambutannya, Wali Kota Kupang menyampaikan bahwa kehadirannya di tengah masyarakat Fatukoa merupakan bentuk cinta dan komitmen pemerintah untuk selalu dekat dengan rakyat. Bahkan, di tengah agenda pemerintahan yang padat bersama Menteri, ia memilih hadir langsung demi bertemu dan mendengar masyarakat.

“Saya ingin bertemu dengan warga saya di Kelurahan Fatukoa. Ini bentuk cinta dan sayang saya untuk warga,” ujar Christian Widodo disambut tepuk tangan warga.

Ia memberikan penghargaan kepada masyarakat RT 23 dan warga Fatukoa yang membangun tugu tersebut secara swadaya. Menurutnya, semangat gotong royong yang ditunjukkan masyarakat menjadi bukti bahwa pembangunan tidak selalu harus bergantung sepenuhnya pada pemerintah, melainkan dapat lahir dari kepedulian dan rasa memiliki masyarakat terhadap wilayahnya.

“Tugu ini bukan hanya bangunan, tetapi simbol kebersamaan, cinta, dan sejarah antara warga Kota Kupang dan Kabupaten Kupang,” tegasnya.

Christian Widodo menilai, posisi Tugu Pilu Tuan sangat strategis karena menjadi wajah pertama Kota Kupang bagi masyarakat yang datang dari arah Kabupaten Kupang. Karena itu, ia mengajak seluruh warga untuk menjaga kebersihan, ketertiban, dan keindahan lingkungan sekitar sebagai cerminan karakter masyarakat Kota Kupang.

“Ini wajah pertama kita. Kalau saudara-saudari dari Kabupaten masuk ke Kota Kupang, mereka akan lihat ini duluan. Jadi mari kita jaga bersama,” katanya.

Tidak hanya itu, Wali Kota juga menyoroti perkembangan infrastruktur di kawasan Fatukoa yang dinilai semakin baik. Jalan yang tertata rapi dan lingkungan yang bersih disebut sebagai hasil nyata sinergi antara pemerintah, DPRD, serta dukungan berbagai pihak terkait.

Menurutnya, pembangunan yang berhasil adalah pembangunan yang melibatkan masyarakat sebagai bagian utama dari proses perubahan. Karena itu, ia berharap semangat kolaborasi yang tumbuh di Fatukoa terus dijaga untuk mendukung pembangunan Kota Kupang ke depan.

Dalam kesempatan tersebut, Christian Widodo kembali menegaskan arah pemerintahan yang berfokus pada pelayanan publik. Ia meminta lurah dan camat agar tidak lamban merespons persoalan masyarakat dan harus hadir sebagai pelayan rakyat.

“Pemerintah bukan lagi yang memerintah, tetapi yang melayani. Kalau ada keluhan, sampaikan. Lurah dan camat harus cepat tanggap,” tegasnya.

Pesan persatuan menjadi penutup kuat dalam sambutannya. Ia mengingatkan bahwa keberagaman bukan alasan untuk terpecah, melainkan kekuatan besar untuk membangun daerah yang lebih maju dan harmonis.

“Kita berbeda-beda, tapi punya tujuan yang sama, yaitu membangun Kota Kupang menjadi lebih baik. Harmoni itu bukan sama, tapi seimbang,” pungkasnya.

Sementara itu, tokoh masyarakat Fatukoa, Daniel Boen Balan, menegaskan bahwa Tugu Pilu Tuan tidak dibangun sebagai simbol pemisah antara warga Fatukoa dan Desa Oelomin. Sebaliknya, tugu tersebut menjadi simbol persatuan dan penegasan hubungan persaudaraan antarwarga di dua wilayah.

“Ini bukan sebuah pembatas untuk memisahkan kita warga Fatukoa dengan warga Desa Oelomin, melainkan sebuah penegasan simbolis untuk menyatukan,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa keberadaan batas wilayah secara administratif sangat penting untuk mendukung tata kelola pemerintahan yang tertib dan memastikan pelayanan masyarakat berjalan lebih baik. Namun demikian, nilai persaudaraan dan semangat kebersamaan harus tetap menjadi fondasi utama kehidupan sosial masyarakat.

Daniel juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam pembangunan tugu tersebut, mulai dari pemerintah, aparat keamanan, tokoh adat, tokoh agama, hingga masyarakat yang terus menjaga semangat musyawarah dan gotong royong.

“Perlu kami sampaikan bahwa tugu ini dibangun secara swadaya oleh RT 23 bersama masyarakat. Dengan berdirinya tanda batas ini, kami berharap ada kepastian wilayah, sinergi pembangunan, serta persatuan. Mari kita jaga batas ini sebagai simbol kerja sama, bukan sekat pemisah,” pungkasnya.

Berdirinya Tugu Pilu Tuan kini menjadi penanda baru di wilayah perbatasan Kota dan Kabupaten Kupang. Lebih dari sekadar monumen, tugu tersebut menjadi simbol bahwa perbedaan wilayah administratif tidak boleh memutus hubungan persaudaraan. Di tengah keberagaman masyarakat, semangat persatuan dan gotong royong tetap menjadi kekuatan utama dalam membangun daerah yang aman, harmonis, dan maju bersama. (Roy S)

KALI DIBACA

No comments:

Post a Comment