WARTAGLOBAL.ID || NTT, Malaka–Selasa, 21 April 2026, seharusnya menjadi hari biasa di Dusun We’talas, Desa We’ulun, Kecamatan Wewiku. Namun, pagi itu, sejarah hampir mencatat tragedi berdarah yang seharusnya tidak perlu terjadi. Seorang ibu berinisial AK nyaris mengakhiri hidupnya dengan seutas tali gantung diri. Beruntung, ajal tak menjemputnya; sang suami, yang bergerak cepat saat menemukan istrinya dalam kondisi kritis, berhasil memotong tali tersebut di detik-detik krusial.
AK tidak gila, tidak juga sedang kehilangan akal sehat. Ia adalah korban. Ia adalah ibu yang hancur berkeping-keping karena anaknya, Mario, seorang siswa kelas enam di SDN Oevetnai, diusir dari ruang ujian hanya karena ketidakbecusan sistem birokrasi kependudukan.
Tragedi ini memuncak saat sekolah menuntut Mario mengikuti ujian, namun di saat yang sama, menjegal haknya karena perbedaan nama: "Mario" di surat baptis, namun tertulis "Maria" di Kartu Keluarga (KK). Tiga kali Mario pulang dengan mata berkaca-kaca, membawa pesan penolakan dari pihak sekolah.
"Mama, saya dikeluarkan dari ruangan... Mama su pi perbaiki Kartu Keluarga ko belom?"
Pertanyaan polos seorang anak yang seharusnya sibuk memikirkan soal ujian, kini dipaksa menghadapi realitas pahit bahwa masa depannya ditentukan oleh selembar kertas yang salah ketik. Di titik inilah, AK, sang ibu, dihantam depresi hebat. Ia telah berjuang. Ia telah bolak-balik mengurus perbaikan ke Dispenduk hingga tiga kali, namun sistem yang kaku dan pelayanan yang seolah menutup pintu, membuatnya merasa buntu.
Yang lebih memuakkan adalah sikap pihak sekolah. Alih-alih memberikan solusi atau dispensasi bagi siswa didik, oknum guru justru melontarkan vonis mati administratif: dokumen tersebut tidak akan bisa diperbaiki lagi ke mana pun dibawa. Ini bukan lagi soal menegakkan aturan; ini adalah bentuk **dehumanisasi** terhadap anak didik.
Kasus ini adalah alarm keras bagi NTT. Kita sudah terlalu sering mendengar berita anak-anak di Flores dan pelosok lainnya yang nekat mengakhiri hidup karena himpitan ekonomi, buku, atau pensil yang tak terbeli. Kini, "wabah" putus asa itu bermutasi menjadi horor birokrasi.
Apakah pendidikan di Malaka sudah sedemikian kerdil sehingga huruf demi huruf di KTP lebih berharga daripada nyawa manusia dan masa depan seorang bocah? Kapan sekolah berhenti menjadi lembaga yang menakutkan dan kembali menjadi rumah bagi ilmu pengetahuan?
Masyarakat Weulun tidak lagi bisa diam. Tragedi yang menimpa AK adalah bukti bahwa sistem pelayanan publik di Malaka sedang "sakit parah" dan butuh operasi mendadak.
Kami menuntut ketegasan Bupati Malaka dan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Malaka untuk segera melakukan evaluasi total.
1. Pastikan Mario tetap bisa mengikuti ujian tanpa terkendala urusan administrasi yang remeh-temeh.
2. Panggil oknum guru atau pihak sekolah yang dinilai tidak memiliki empati terhadap kondisi psikologis siswa dan orang tua.
3. Jangan biarkan warga dipimpong hingga frustrasi.
Jika Bupati dan Kepala Dinas Pendidikan masih memilih bungkam atau berlindung di balik meja birokrasi, maka mereka secara tidak langsung membiarkan tragedi serupa terulang. Hari ini AK selamat berkat suaminya, namun siapa yang bisa menjamin keselamatan ibu-ibu lain yang mungkin sedang berada di ambang putus asa akibat sistem yang abai?
Sudah saatnya birokrasi bekerja untuk rakyat, bukan justru menjadi algojo bagi harapan anak-anak bangsa di tanah Malaka. (Roy S)
KALI DIBACA


.jpg)

No comments:
Post a Comment