WARTAGLOBAL.ID || NTT, Weoe - Minggu pagi di Desa Weoe kali ini menyajikan sebuah anomali spiritual yang tajam di halaman Gereja GMIT Alfa Omega Uluklubuk. Di bawah atap yang sama, dua pasang pengantin berdiri di altar, namun mereka seolah melangkah dari dunia yang berbeda.
Pernikahan, yang secara teologis seharusnya menjadi perayaan "penyerahan diri", justru menampilkan wajah kontras yang membelah perhatian jemaat.
Di satu sisi, sorotan tertuju pada anak dari penanggung jawab gereja setempat. Tanpa iring-iringan kendaraan, tanpa kebisingan knalpot, mereka memilih cara yang paling purba dan mendalam: berjalan kaki menuju gereja. Di tengah budaya yang mulai mengagungkan "gengsi" dan "panggung" dalam setiap seremoni, pasangan ini justru tampil telanjang dari segala atribut kemewahan. Mereka melangkah di atas tanah Desa Weoe, seolah ingin menunjukkan bahwa pernikahan bukan tentang siapa yang paling mencolok, melainkan siapa yang paling berserah.
Namun, hanya beberapa langkah di belakang—atau mungkin secara filosofis, berkilo-kilometer jauhnya—pasangan kedua menampilkan narasi yang bertolak belakang. Mereka datang dengan "aroma" pestapora. Iring-iringan mobil dan gemerlap atribut pernikahan seolah menjadi deklarasi status sosial yang ingin dipamerkan di depan altar.
Lebih jauh, pasangan ini memboyong paket "lengkap": selain sakramen pernikahan, mereka juga melakukan peneguhan Sidi dan pembaptisan kudus bagi kedua anak mereka dalam satu momentum. Sebuah tindakan yang, jika dipandang dari kacamata kritis, terasa seperti "borongan" ritual yang dibungkus dengan kemegahan fisik.
Di balik kontras yang mencolok ini, sosok penanggung jawab gereja GMIT Alfa Omega Uluklubuk menjadi pusat perhatian. Saat ditemui awak media usai ibadah, ia tak mampu menahan emosi. Namun, air mata yang jatuh bukanlah tangis haru biasa; itu adalah air mata kebahagiaan seorang ayah yang melihat anaknya memilih jalan yang sunyi dan lurus.
"Saya melihat anak saya dan pasangannya berjalan kaki. Bagi saya, itu adalah bentuk khotbah hidup yang paling keras," ujarnya dengan suara yang bergetar. Baginya, ketulusan tidak butuh panggung. Kesederhanaan anaknya adalah tamparan halus bagi siapapun yang menganggap bahwa nilai sebuah sakramen bisa diukur dari seberapa mewah pesta yang digelar.
Ia memeluk anaknya dengan dekapan yang sarat makna. Bagi sang ayah, kesederhanaan tersebut adalah bukti bahwa didikan iman telah tertanam lebih dalam daripada harta duniawi.
Kejadian di Uluklubuk hari ini menjadi cermin bagi jemaat dan masyarakat luas. Apakah pernikahan di gereja kini telah bergeser menjadi "pameran" kekuatan finansial?
Di satu sisi, ada mereka yang menganggap sakramen harus dibarengi dengan gegap gempita, mobil mewah, dan rangkaian ritual yang serba instan. Di sisi lain, ada anak muda yang berani melawan arus, memilih debu jalanan dan kerendahan hati daripada lampu sorot pestapora.
Hari ini, GMIT Alfa Omega Uluklubuk telah mencatat sebuah sejarah. Bukan karena siapa yang menikah, tetapi tentang *bagaimana* mereka memaknai pernikahan. Di satu sudut altar, kita melihat doa yang jujur dalam kesederhanaan. Di sudut lain, kita melihat sebuah teater kemewahan yang mungkin terlalu bising untuk mendengar suara Tuhan.
Pada akhirnya, di Desa Weoe hari ini, semua orang dipaksa bertanya: Saat kemegahan pesta nanti usai dan mobil-mobil mewah itu kembali ke garasi, apa yang tersisa? Mungkin, hanya kesederhanaan seperti langkah kaki pengantin tadi yang akan mampu bertahan melewati badai kehidupan. (Roy S)
KALI DIBACA


.jpg)

No comments:
Post a Comment