WARTAGLOBAL.ID || NTT, Kupang - Tangis haru pecah di Paroki St. Andreas Lasiana, Rabu (6/5). Di hadapan altar Tuhan, sebanyak 49 pasangan suami istri akhirnya menerima sakramen pernikahan setelah sekian lama menjalani hidup bersama dalam berbagai pergumulan kehidupan.
Momentum sakral itu menjadi bagian penting dalam rangkaian perayaan HUT ke-140 Kota Kupang dan 30 tahun sebagai daerah otonom. Namun lebih dari sekadar seremoni, nikah massal tersebut menjelma menjadi panggung kasih, pengharapan, dan pemulihan martabat keluarga.
Di tengah suasana penuh doa dan sukacita umat, Christian Widodo menyampaikan pesan yang menggugah hati tentang arti sebuah keluarga dalam membangun masa depan kota.
“Kalau hari ini Kota Kupang bercahaya, itu bukan karena obor di kantor wali kota, tetapi karena lilin-lilin kecil yang menyala di keluarga-keluarga,” ungkapnya dengan suara penuh penekanan.
Kalimat itu langsung menyentuh hati umat yang hadir. Bagi Wali Kota, kekuatan sebuah daerah bukan hanya diukur dari megahnya pembangunan fisik, tetapi dari rumah-rumah yang dipenuhi kasih, doa, kesetiaan, dan rasa takut akan Tuhan.
Menurutnya, keluarga adalah sekolah pertama bagi kehidupan manusia. Dari keluarga lahir generasi yang akan menentukan masa depan bangsa dan daerah.
“Kalau keluarga rusak, kota juga perlahan akan rusak. Tapi kalau keluarga kuat, penuh cinta dan takut Tuhan, maka kota ini akan menjadi kota yang penuh damai,” tegasnya.
Ia menekankan bahwa pernikahan bukan hanya soal pesta atau legalitas administrasi, melainkan sebuah perjanjian suci di hadapan Tuhan yang harus dijaga seumur hidup.
Dalam pesan rohaninya, dr. Christian Widodo mengingatkan pasangan yang baru menerima pemberkatan agar tidak mudah menyerah ketika badai rumah tangga datang menghantam.
“Dalam rumah tangga pasti ada air mata, ada kesulitan, ada perbedaan. Tetapi jangan pernah membiarkan ego lebih besar daripada kasih. Jangan biarkan kemarahan mematikan cinta yang sudah dipersatukan Tuhan,” pesannya.
Ia juga mengajak para suami agar menjadi pemimpin keluarga yang penuh tanggung jawab dan para istri menjadi penolong yang menghadirkan kedamaian dalam rumah tangga.
“Anak-anak tidak membutuhkan keluarga yang sempurna. Mereka membutuhkan keluarga yang saling mengasihi dan saling mengampuni,” lanjutnya.
Wali Kota Kupang juga menegaskan bahwa pemerintah harus hadir melayani masyarakat, bukan sekadar menjalankan birokrasi.
“Memerintah adalah melayani. Pemerintah tidak boleh jauh dari rakyat. Hari ini kami hadir supaya masyarakat bisa mendapatkan haknya, baik secara hukum maupun secara iman,” ujarnya.
Program nikah massal tersebut menjadi bukti nyata komitmen Pemerintah Kota Kupang dalam membantu masyarakat memperoleh legalitas pernikahan sekaligus memperkuat kehidupan keluarga.
Tahun ini, Pemerintah Kota Kupang memfasilitasi 101 pasangan dari berbagai denominasi agama untuk mengikuti nikah massal, termasuk 49 pasangan Katolik di Paroki Lasiana.
Selain itu, pemerintah juga menggulirkan berbagai program sosial lainnya seperti bantuan beasiswa bagi 695 siswa, sunatan massal, hingga rehabilitasi 500 rumah warga kurang mampu.
Sementara itu, Pastor Paroki Paroki St. Andreas Lasiana, RD Hironimus Nitsae, menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan tersebut.
Menurutnya, perjalanan menuju sakramen pernikahan bukan proses yang mudah. Banyak pasangan harus melewati perjuangan panjang dalam melengkapi administrasi hingga pembinaan rohani.
“Terima kasih atas kesabaran dan cinta dari Pemerintah Kota Kupang, khususnya bagian Kesra, Dukcapil, dan semua pihak yang sudah mendampingi umat kami sampai hari ini,” katanya.
Ia mengingatkan bahwa sakramen pernikahan bukan sekadar status baru, tetapi panggilan hidup untuk saling menjaga sampai akhir hayat.
“Kalau Tuhan tinggal dalam rumah tangga, maka rumah itu akan tetap berdiri meski diterpa badai sebesar apa pun,” ujarnya penuh keyakinan.
Ketua DPP Paroki Lasiana, Hendrik Mbanggur, juga menyampaikan pesan reflektif kepada para pasangan yang baru diberkati.
Ia mengajak mereka untuk menjadikan keluarga sebagai tempat lahirnya kasih dan pengampunan.
“Jangan hanya bergandengan tangan hari ini saja. Tetaplah berjalan bersama sampai tua. Karena keluarga yang bertahan dalam Tuhan akan menjadi terang bagi sesama,” tuturnya.
Nikah massal di Lasiana itu akhirnya menjadi lebih dari sekadar acara seremonial. Di tengah meningkatnya tantangan kehidupan keluarga modern, kegiatan tersebut menghadirkan pesan kuat bahwa membangun kota tidak dimulai dari gedung pemerintahan, melainkan dari meja makan keluarga, dari doa bersama di rumah, dan dari kasih yang tetap menyala di tengah keterbatasan hidup.
Sebab kota yang diberkati bukan hanya kota yang maju pembangunan fisiknya, tetapi kota yang dipenuhi keluarga-keluarga yang hidup dalam cinta kasih dan takut akan Tuhan. (Roy S)
KALI DIBACA


.jpg)

No comments:
Post a Comment